Langsung ke konten utama

JUDULNYA MUNGKIN RAMEN TIGA RIBU DASAWARSA?

 

Hai. Aku kembali lagi.

Kemarin, aku sama temenku pergi makan ke salah satu restoran Jepang yang baru buka di deket kampus. Murame namanya. Mereka ngejual ramen, teppanyaki, donburi, sushi, dan yakitori. Ngejual, katanya, berasa toko kelontong aja.

Tapi maksudnya, itu tadi adalah menu-menu mereka. Tentu aja ditambah dengan dessert, makanan ringan, dan beverages lainnya. Dan di sini aku mau review satu-satu mulai dari tempatnya, rasanya, sampai ke pelayanannya.

 

Pertama, tempat. Lokasi Murame ini ada di Pamulang, deket banget sama kampus 2 Universitas Pamulang, pokoknya di sebelah Hokben. Setau aku dia emang baru buka cabang di sini bulan lalu. Cabang lainnya ada di Pasar Baru Tangerang dan Jatiasih.

Kalau dari lokasi menurut aku strategis, ya. Mereka ada di tengah-tengah keramaian, di pinggir jalan, terus deket kampus swasta. Tenang, tempat parkir mereka luas. Kemarin pas aku dateng tuh kebetulan mepet jam makan malam, which is lagi rush hour, banyak banget motor yang terparkir di luar. Tapi space untuk pejalan kaki kayak aku masih ada.

 

Pas masuk ke dalem, walah, beneran rame ternyata. Baik yang duduk maupun yang lesehan rata-rata udah keisi semua. Aku dan temenku langsung dipandu waitress buat nyari tempat duduk. Untungnya, mereka nggak pelit kipas angin. Jadi walaupun lagi rame aku nggak merasa terlalu sumpek dan gerah.

Lanjut, kami akhirnya pilih menu. Aku pesen Chicken Kara Ramen dan Lemon Tea, sedangkan temenku pesen Chicken Karaage Curry Rice dan Cappuccino. Terus kami juga pesen Chicken Teriyaki Roll (sushi) dan Oreo Cookie Ice Cream sebagai dessert.

Pas bayar, aku agak kesel sih karena mereka nggak ada kembalian sama sekali, aku sampe bolak-balik 3 kali buat ambil uang, dan pada akhirnya aku bayar pake debit (padahal saldo ATM lagi menipis dan cuman ready cash).

Sekitar 15 menit menunggu, pesanan akhirnya datang, kecuali ramen dan es krim. Kalo es krim nya emang sengaja ditaruh di akhir biar nggak mencair. Pokoknya mungkin sekitar 20-25 menit akhirnya semua pesanan tersaji di meja kami.

Awal liat ramennya lumayan kaget karena ternyata porsinya kecil, apalagi kalo kita bandingkan sama gambarnya di menu. Untung aja rasanya nggak zonk, walau kurang creamy dan spicy padahal di menunya tertulis spicy and creamy. Aku juga cobain nasi kari punya temenku, rasanya… kayak… bukan harga 27ribu rupiah. Kurang ‘nggigit’.

Minumannya juga menurut aku bikin sedih, karena rasanya kayak minuman instan.

 

Meski begitu, kami akhirnya tetap menikmati makanan yang sudah tersaji. Ya mau gimana lagi? Masa diiliatin doang? Pelayannya juga udah baik-baik dan ramah, setidaknya aku harus merasakan sedikit cinta dari mereka.

 

Untuk bagian sushi, kami dapat 6 potong dalam satu piring. Rasa nasinya kerasa banget dan ternyata di dalamnya ada timun, sedangkan temenku nggak suka timun. Akhirnya karena aku kasian, jatah temenku yang 1 lagi aku makan deh.

(oi, ini sudah melalui persetujuan yang resmi, bertandatangan, dan bermaterai).

 

Setelah 15 menit kami habisin makanan, saatnya menanti dessert dong, es krim!

Lima menit pertama aku masih biasa aja. Tapi pas lima menit selanjutnya, aku mulai gelisah, ‘kok es krim ku nggak keluar-keluar’, pikirku. Padahal semuanya udah berakhir. Yang tersisa sekarang hanyalah semangkok es krim. Apakah akhir menurut kami dengan akhir menurut mereka berbeda?

Akhirnya karena aku takut akhir yang dimaksud mereka tuh jam akhir buka si restorannya, aku panggil lah waitress yang kebetulan ada di depan mataku itu. Mbak-mbak, cantik. Aku minta dengan sopan biar es krim ku disajiin sekarang. Kakak itu bilang iya, terus pergi, mungkin melapor ke dapur biar pesananku segera dibuatkan.

 

Sepuluh menit kemudian, aku masih sibuk bikin video Tiktok bareng temenku. Tanda-tanda kehadiran es krim oreo belum juga ada. Sampe akhirnya ada satu kakak cantik lagi dateng buat ambil piring kotor. Sekali lagi, aku juga ngomong ke kakak itu dan dia mengiyakan. Katanya, “Baik, ditunggu sebentar ya Kakak,” sambil mengonfirmasi berapa es krim oreo yang aku pesan? Dua? Aku geleng-geleng, jawab ‘satu’.

 

Lima menit kemudian, ada satu mas-mas bawa nampan yang di atasnya ada mangkok putih mungil nan bersih. Aku yang lagi liatin handphone dongak, hampir nyeplos kalau mas nya salah meja, karena yang aku pesan itu es krim oreo di mangkok bening besar tinggi cantik, bukan nggak-tahu-apa-itu di mangkok mungil putih bersih.

Tapi untung aja kalimat itu belum keluar dari mulutku.

Mas nya bilang, “Oreo Cookie Ice Cream nya satu ya, Kak.”

Dan pas mangkok itu udah pindah dari nampan ke meja di depanku, baru lah aku sadar kalau nggak-tahu-apa-itu yang ada di mangkok mungil putih bersih memanglah es krim oreo kami.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Apa Cicilan? Kok Nggak Selesai-selesai?

Pernah nggak sih kamu baca komik atau karya sastra lainnya gitu deh, terus ngerasa, “Kok ceritanya gue banget, ya?” Nah, vibe itu yang langsung kerasa waktu baca Matahari Setengah Lingkar. Komik ini nggak cuma sekadar cerita, tapi juga punya alur yang familiar kita temui di kehidupan sehari-hari. Komik ini tuh punya akur campuran alias maju kena mundur kena (ea). Nggak ya. Maksudnya, komik ini selain menceritakan masa sekarang yang dialami Kayra, tokoh utama, juga menceritakan kisahnya di masa lalu yang melatarbelakangi perasaan Kayra saat ini. JADIIII, ceritanye. Kayra ni pas SMA dulu demen ama yang namanye Arka. Blio nih tipikal cowok di SMA yang gampang disukai banyak orang gitu ngerti kan. Ya gimana enggak, dia nih udah good looking, supel, ramah, suka bantu orang, supportif lagi. Awalnya Arka yang ngedeketin Kayra duluan dengan basa-basi ✨"Wah, gambar kamu bagus banget"✨ pas Kayra lagi duduk sendirian di bangku kelasnya sambil ngegambar.  Dari situ lah, Kayra naksir Arka...

Drawata: Tradisi Sastra Indonesia Unpam

Hai semuanyaaa! Ketemu lagi sama aku di halaman yang berbeda.   Tulisan kali ini agak spesial nih daripada biasanya, karena aku di sini mau review sesuatu yaitu teater. Tapi sebelum itu, ada hal yang perlu aku jelasin dulu nih ke kalian. Tentang Drawata. Drawata adalah singkatan dari Drama Warisan Tahunan. Acara ini merupakan salah satu pementasan yang diadakan oleh jurusan Sastra Indonesia Universitas Pamulang setiap tahunnya untuk memenuhi mata kuliah Kajian Seni Pertunjukan bagi mereka yang ada di semester 6. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Drawata juga diadakan di Amphiteater, Taman Kota 2 BSD, Tangerang Selatan. Terdiri dari 8 pertunjukan yang dibagi menjadi 4 hari, aku memilih untuk nonton di hari pertama, Rabu, 26 Juni 2024.   Pementasan yang dilakukan yaitu ada dua, pertama “Perempuan dan Anjing” karya Anton Chekhov yang diadaptasi dan diterjemahkan oleh kelas 06SIDE001 dan kedua “Orang Kasar” karya Anton Chekhov saduran dari W. S. Rendra. ...