Hai. Aku kembali lagi.
Kemarin, aku sama temenku pergi makan ke salah satu restoran
Jepang yang baru buka di deket kampus. Murame namanya. Mereka ngejual ramen,
teppanyaki, donburi, sushi, dan yakitori. Ngejual, katanya, berasa toko kelontong
aja.
Tapi maksudnya, itu tadi adalah menu-menu mereka. Tentu aja
ditambah dengan dessert, makanan ringan, dan beverages lainnya. Dan di sini aku
mau review satu-satu mulai dari tempatnya, rasanya, sampai ke pelayanannya.
Pertama, tempat. Lokasi Murame ini ada di Pamulang, deket
banget sama kampus 2 Universitas Pamulang, pokoknya di sebelah Hokben. Setau aku
dia emang baru buka cabang di sini bulan lalu. Cabang lainnya ada di Pasar Baru
Tangerang dan Jatiasih.
Kalau dari lokasi menurut aku strategis, ya. Mereka ada di
tengah-tengah keramaian, di pinggir jalan, terus deket kampus swasta. Tenang, tempat
parkir mereka luas. Kemarin pas aku dateng tuh kebetulan mepet jam makan malam,
which is lagi rush hour, banyak banget motor yang terparkir di luar. Tapi space
untuk pejalan kaki kayak aku masih ada.
Pas masuk ke dalem, walah, beneran rame ternyata. Baik yang
duduk maupun yang lesehan rata-rata udah keisi semua. Aku dan temenku langsung
dipandu waitress buat nyari tempat duduk. Untungnya, mereka nggak pelit kipas
angin. Jadi walaupun lagi rame aku nggak merasa terlalu sumpek dan gerah.
Lanjut, kami akhirnya pilih menu. Aku pesen Chicken Kara Ramen
dan Lemon Tea, sedangkan temenku pesen Chicken Karaage Curry Rice dan Cappuccino.
Terus kami juga pesen Chicken Teriyaki Roll (sushi) dan Oreo Cookie Ice Cream sebagai
dessert.
Pas bayar, aku agak kesel sih karena mereka nggak ada kembalian sama sekali, aku sampe bolak-balik 3 kali buat ambil uang, dan pada akhirnya aku bayar pake debit (padahal saldo ATM lagi menipis dan cuman ready cash).
Sekitar 15 menit menunggu, pesanan akhirnya datang, kecuali
ramen dan es krim. Kalo es krim nya emang sengaja ditaruh di akhir biar nggak
mencair. Pokoknya mungkin sekitar 20-25 menit akhirnya semua pesanan tersaji di
meja kami.
Awal liat ramennya lumayan kaget karena ternyata porsinya
kecil, apalagi kalo kita bandingkan sama gambarnya di menu. Untung aja rasanya
nggak zonk, walau kurang creamy dan spicy padahal di menunya tertulis spicy and
creamy. Aku juga cobain nasi kari punya temenku, rasanya… kayak… bukan harga 27ribu
rupiah. Kurang ‘nggigit’.
Minumannya juga menurut aku bikin sedih, karena rasanya
kayak minuman instan.
Meski begitu, kami akhirnya tetap menikmati makanan yang sudah tersaji. Ya mau gimana lagi? Masa diiliatin doang? Pelayannya juga udah baik-baik dan ramah, setidaknya aku harus merasakan sedikit cinta dari mereka.
Untuk bagian sushi, kami dapat 6 potong dalam satu piring. Rasa
nasinya kerasa banget dan ternyata di dalamnya ada timun, sedangkan temenku
nggak suka timun. Akhirnya karena aku kasian, jatah temenku yang 1 lagi aku
makan deh.
(oi, ini sudah melalui persetujuan yang resmi, bertandatangan,
dan bermaterai).
Setelah 15 menit kami habisin makanan, saatnya menanti
dessert dong, es krim!
Lima menit pertama aku masih biasa aja. Tapi pas lima menit
selanjutnya, aku mulai gelisah, ‘kok es krim ku nggak keluar-keluar’, pikirku. Padahal
semuanya udah berakhir. Yang tersisa sekarang hanyalah semangkok es krim. Apakah
akhir menurut kami dengan akhir menurut mereka berbeda?
Akhirnya karena aku takut akhir yang dimaksud mereka tuh jam
akhir buka si restorannya, aku panggil lah waitress yang kebetulan ada di depan
mataku itu. Mbak-mbak, cantik. Aku minta dengan sopan biar es krim ku disajiin
sekarang. Kakak itu bilang iya, terus pergi, mungkin melapor ke dapur biar
pesananku segera dibuatkan.
Sepuluh menit kemudian, aku masih sibuk bikin video Tiktok
bareng temenku. Tanda-tanda kehadiran es krim oreo belum juga ada. Sampe akhirnya
ada satu kakak cantik lagi dateng buat ambil piring kotor. Sekali lagi, aku
juga ngomong ke kakak itu dan dia mengiyakan. Katanya, “Baik, ditunggu sebentar
ya Kakak,” sambil mengonfirmasi berapa es krim oreo yang aku pesan? Dua? Aku geleng-geleng,
jawab ‘satu’.
Lima menit kemudian, ada satu mas-mas bawa nampan yang di atasnya ada mangkok putih mungil nan bersih. Aku yang lagi liatin handphone dongak, hampir nyeplos kalau mas nya salah meja, karena yang aku pesan itu es krim oreo di mangkok bening besar tinggi cantik, bukan nggak-tahu-apa-itu di mangkok mungil putih bersih.
Tapi untung aja kalimat itu belum keluar dari mulutku.
Mas nya bilang, “Oreo Cookie Ice Cream nya satu ya, Kak.”
Dan pas mangkok itu udah pindah dari nampan ke meja di
depanku, baru lah aku sadar kalau nggak-tahu-apa-itu yang ada di mangkok mungil
putih bersih memanglah es krim oreo kami.



Komentar
Posting Komentar