Langsung ke konten utama

Drawata: Tradisi Sastra Indonesia Unpam

Hai semuanyaaa!

Ketemu lagi sama aku di halaman yang berbeda.

 


Tulisan kali ini agak spesial nih daripada biasanya, karena aku di sini mau review sesuatu yaitu teater. Tapi sebelum itu, ada hal yang perlu aku jelasin dulu nih ke kalian. Tentang Drawata.

Drawata adalah singkatan dari Drama Warisan Tahunan. Acara ini merupakan salah satu pementasan yang diadakan oleh jurusan Sastra Indonesia Universitas Pamulang setiap tahunnya untuk memenuhi mata kuliah Kajian Seni Pertunjukan bagi mereka yang ada di semester 6.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Drawata juga diadakan di Amphiteater, Taman Kota 2 BSD, Tangerang Selatan. Terdiri dari 8 pertunjukan yang dibagi menjadi 4 hari, aku memilih untuk nonton di hari pertama, Rabu, 26 Juni 2024.

 

Pementasan yang dilakukan yaitu ada dua, pertama “Perempuan dan Anjing” karya Anton Chekhov yang diadaptasi dan diterjemahkan oleh kelas 06SIDE001 dan kedua “Orang Kasar” karya Anton Chekhov saduran dari W. S. Rendra.

 

Okay, pertama aku akan review dulu pementasan Perempuan dan Anjing. Oh iya, aku juga sempet bikin vlog, loh. Kalo kalian pengen ngintip-ngintip gimana kerennya kakak-kakak tingkat aku berteater, silakan tonton di sini ya!

 

Perempuan dan Anjing mengisahkan kisah cinta terlarang antara Nanang dan Resti. Mereka jatuh cinta pada satu sama lain padahal keduanya sudah sama-sama berumahtangga. Resti kesal dengan suaminya yang selalu menghabiskan waktu dengan bekerja tanpa memperdulikan Resti yang kesepian di rumah. Padahal suami Resti bekerja untuk memenuhi kebutuhan Resti dan membahagiakannya. Namun ternyata Resti memiliki pandangan yang berbeda.

Sedangkan Nanang, ia kesal dengan istrinya karena tidak pernah memberi perhatian kepada dirinya. Istrinya egois selalu mementingkan dirinya sendiri.

 

Mereka dipertemukan di sebuah taman. Pedangan minuman asongan menjadi saksi dimana Nanang jatuh cinta pada Resti untuk pandangan pertama. Mereka akhirnya berjanji untuk bertemu kembali, di konser Sheila On7. Namun malamnya, hal yang tidak diduga terjadi. Mereka bercinta.

 

Resti merasa bahwa tidak seharusnya mereka berbuat sejauh itu. Resti tidak bisa hidup penuh dosa dan kebohongan. Sedangkan Nanang, ia sama sekali tidak menyesali apa yang telah mereka buat malam itu. Nanang terus membujuk Resti agar mau terus menjalankan hubungan mereka, tanpa penyesalan apapun.

Namun ternyata, Resti tidak bisa. Resti memilih meninggalkan Nanang yang kemudian menjadi depresi. Hidup Nanang makin hancur, hanya ditemani rokok dan alkohol.

 


Kalo disuruh rating pementasan ini, aku bakal kasih 7/10.

Pertama, aku suka sama alur dan settingnya. Mereka bener-bener effort dalam memaksimalkan setting sampe segala sofa dan kasur disiapin. Pas pulangnya bahkan aku liat mobil bak yang angkut barang-barang mereka, hahahaha.

Awalnya aku pengen protes gitu kan karena mereka kebanyakan ganti setting banget. Tapi untungnya mereka memaksimalkan itu. Pas di taman, ada pohon, bangku, dan lampu tamannya. Pas di rumah, ada sofa dan meja. Pas di kamar, ada kasur, meja rias, bahkan layar proyektor buat ‘menampilkan’ adegan ‘ekhem’. Pokoknya oke deh.

 

Terus alurnya juga oke. Jelas dan cepat dipahami. Apalagi aktornya dalam mengucapkan dialog itu juga dapat terdengar dengan baik oleh penonton. Sayangnya, penjiwaan mereka masih kurang. Bisa dilihat beberapa gerakan mereka canggung, apalagi tokoh Perempuan, Resti. Malah di sini yang paling menjiwai adalah karakter Tukang Asongan, hahahaha.

Oh iya, aku pikir, Tukang Asongan ini malah punya peran penting di dalam cerita karena di awal kehadirannya, dia bener-bener selalu menyela hubungan Resti dan Nanang. Tapi ternyata, dia cuman ‘orang lewat’.

 

Kemudian aku ngerasa endingnya kurang greget. Adegan dimana Nanang sedang merokok dan mabuk-mabukan di taman tuh nggak tau kenapa di aku kurang nampol. Dialog Nanang kurang kuat dan gaya tubuhnya belum terlalu menunjukkan perilaku orang yang sedang mabuk.

 

Menurut aku gongnya ada di adegan Nanang dan Resti bercinta. Eitsss, jangan dulu mikir aku mesum ya, oy!! Maksudnya adalah, mereka cerdik banget ngakalin adegan itu pake layar proyektor. Jadi Nanang dan Resti ada di balik layar, terus yang keliatan cuman bayangan mereka doang. Menurut aku, itu butuh effort yang besar banget sih bagi kedua tokoh karena mereka harus luwes dan enggak canggung dalam memainkan adegan sensual kayak gitu.

 

Terus poin plus dari aku itu pas adegan konser Sheila On7. Waktu mereka nyebut mau ketemuan di situ, aku langsung mikir, “Ini gimana caranya bikin setting konser di pementasan?” Eh ternyata, mereka menempatkan beberapa figuran yang terihat lagi asik joget dan loncat-loncat di pojok panggung dengan latar musik lagu Sheila On7. Sementara kedua tokoh utama ada di tengah panggung, berdialog, seolah-olah tuh ya mereka lagi ngobrol di tengah-tengah konser gitu. Keren sih.



Next, pementasan selanjutnya ada “Orang Kasar”. Ini tuh menceritakan tentang Nyonya Martopo yang masih saja berkabung atas kepergian suaminya walau sudah setahun berlalu. Dia tetap setia pada suaminya, dia mendedikasikan dirinya sendiri untuk ikut ‘mati’ bersama suaminya. Dia mengurung dirinya sendiri di rumah, di antara empat dinding rumahnya.

Dia huanya tinggal bersama pembantu-pembantu rumah tangganya, salah satunya adalah Pak Darmo, yang sangat setia dan tulus pada Ny. Martopo.

Suatu hari, mereka kedatangan tamu yang sangat kasar dan tidak beretika. Walaupun sudah diusir, orang itu tidak mau pergi. Ternyata, ia datang untuk menagih hutang yang ditinggalkan oleh Tuan Martopo. Ny. Martopo menolak untuk membayar karena bendahara rumahnya sedang pergi. Padahal Tn. Kasar membutuhkan uang itu karena besok paginya ia juga ingin membayar hutang.

Maka, Orang Kasar itu tetap menunggu di rumah Ny. Martopo. Dia berkali-kali memerintah Pak Darmo dengan kasar. Ny. Martopo yang kepalang kesal mengancam Orang Kasar dengan senapan peninggalan suaminya. Namun ternyata dia tidak bisa memakai senapan.

Akhirnya Orang Kasar malah mengajari Ny. Martopo menggunakan senapan. Pada saat itu, Orang Kasar jatuh cinta pada Ny. Martopo karena kecantikan Ny. Martopo. Orang Kasar pun meminta Ny. Martopo untuk menerima cintanya.

Sempat ragu bahkan sampai mengusir Orang Kasar, Ny. Martopo yang memang kesepian dan perlu menyembuhkan lukanya itu pun akhirnya menerima cinta dari Orang Kasar.

 


Wah, seriously, aku kasih pementasan ini nilai 8 dari 10.

Aku, SUKA BANGET sama chemistry antartokoh nya. Mereka betul-betul membangun atmosfer yang baik, sehingga dialog di antara mereka nggak terasa kering dan kosong.

Alur dari ceritanya sendiri juga enggak membosankan, walaupun mereka nggak banyak berganti setting dan hanya terdiri dari 1 babak.

 

Mereka juga banyak banget memasukkan unsur komedi di dalamnya, entah itu dari karakter tokohnya, dialog antar tokoh, bahkan perilaku tokoh, dan semua itu didukung dengan latar musik yang bener-bener pas dan cocok untuk situasi yang sedang ditampilkan.

 


Pokoknya aku suka semuanya kecualiiiii, dua hal ini: akting Nyonya Martopo dan artikulasi dari Orang Kasar.

Ny. Martopo kan digambarkan sebagai janda yang berkabung atas kematian suaminya. Kesedihannya itu pun berlaur-larut. Tapi justru kesan pertama yang aku dapet dari dia adalah seorang nyonya rumah yang ‘galak’ dan keras. Soalnya pas adegan pertama banget tuh, Ny. Martopo kan usap-usap foto mendiang suaminya, terus dihibur Pak Darmo, ekspektasi aku dia bakal jawab dengan suara yang lesu, tanpa semangat, tatapannya kosong. Tapi dia malah jawab dengan tegas dan ketus. Dan lagi, busana yang dipakai Ny. Martopo terlalu ‘mewah’ untuk orang yang berduka.

Oh ya, di beberapa bagian mendekati akhir, pemeran Ny. Martopo juga beberapa kali (kayaknya dua kali) lupa dialog. Jadi dia mengulang kalimatnya dan terbata-bata.

Kemudian untuk Orang Kasar, sebenernya dia oke banget. Penjiwaan mantap sampe aku ngerasa karakter itu cocok banget dia perankan, bahasa tubuhnya juga luwes dan nggak gerogi, dialog lancar. Tapi sayaaaanggg banget, artikulasi dia kurang jelas. Aku yang nonton di barisan ketiga aja nggak bisa denger jelas dia ngomong apa. Dia juga mengucapkan dialognya cepet banget gitu. Padahal kan isi cerita ini sangat amat bergantung dengan dialog, karena nggak ada pendukung apapun lagi untuk menjelaskan ceritanya. Nggak ada pergantian setting dan pergantian babak. Makanya aku ngerasa agak enggak paham sama jalan ceritanya karena nggak denger dialog dari si Orang Kasar (padahal juga dia menguasai sekitar 50% dialog di cerita itu).

 


Maka udah jelas banget kalo MVP di pementasan ini justru Pak Darmo nya. Menurut aku, karakternya nggak kekurangan apapun. Mulai dari penjiwaan, bahasa tubuh, dialog, proyeksi suara, artikulasi, semuanya oke dan jelas.

 

Overall buat pementasan hari pertama Drawata ini aku puas banget sih. Dengan tiket 25 ribu rupiah aku dapet nonton dua pertunjukkan yang keren-keren sekaligus.

Salut buat kakak-kakak tingkat yang udah mempersiapkan segalanya.

 

Mana aku denger katanya karena perubahan kurikulum, angkatan aku Drawata-nya dimajuin satu semester. Jadi aku bakal lakuin pementasan Drawata semester depan—semester 5, bukan semester 6—tahun depan, Gila. Makin deg-degan.


Okay, segitu dulu buat catatan hari ini.

Sampai jumpa di halaman selanjutnya! Dadaaahhh~~~!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Apa Cicilan? Kok Nggak Selesai-selesai?

Pernah nggak sih kamu baca komik atau karya sastra lainnya gitu deh, terus ngerasa, “Kok ceritanya gue banget, ya?” Nah, vibe itu yang langsung kerasa waktu baca Matahari Setengah Lingkar. Komik ini nggak cuma sekadar cerita, tapi juga punya alur yang familiar kita temui di kehidupan sehari-hari. Komik ini tuh punya akur campuran alias maju kena mundur kena (ea). Nggak ya. Maksudnya, komik ini selain menceritakan masa sekarang yang dialami Kayra, tokoh utama, juga menceritakan kisahnya di masa lalu yang melatarbelakangi perasaan Kayra saat ini. JADIIII, ceritanye. Kayra ni pas SMA dulu demen ama yang namanye Arka. Blio nih tipikal cowok di SMA yang gampang disukai banyak orang gitu ngerti kan. Ya gimana enggak, dia nih udah good looking, supel, ramah, suka bantu orang, supportif lagi. Awalnya Arka yang ngedeketin Kayra duluan dengan basa-basi ✨"Wah, gambar kamu bagus banget"✨ pas Kayra lagi duduk sendirian di bangku kelasnya sambil ngegambar.  Dari situ lah, Kayra naksir Arka...

JUDULNYA MUNGKIN RAMEN TIGA RIBU DASAWARSA?

  Hai. Aku kembali lagi. Kemarin, aku sama temenku pergi makan ke salah satu restoran Jepang yang baru buka di deket kampus. Murame namanya. Mereka ngejual ramen, teppanyaki, donburi, sushi, dan yakitori. Ngejual, katanya, berasa toko kelontong aja. Tapi maksudnya, itu tadi adalah menu-menu mereka. Tentu aja ditambah dengan dessert , makanan ringan, dan beverages lainnya. Dan di sini aku mau review satu-satu mulai dari tempatnya, rasanya, sampai ke pelayanannya.   Pertama, tempat. Lokasi Murame ini ada di Pamulang, deket banget sama kampus 2 Universitas Pamulang, pokoknya di sebelah Hokben. Setau aku dia emang baru buka cabang di sini bulan lalu. Cabang lainnya ada di Pasar Baru Tangerang dan Jatiasih. Kalau dari lokasi menurut aku strategis, ya. Mereka ada di tengah-tengah keramaian, di pinggir jalan, terus deket kampus swasta. Tenang, tempat parkir mereka luas. Kemarin pas aku dateng tuh kebetulan mepet jam makan malam, which is lagi rush hour , banyak banget moto...