Langsung ke konten utama

Kita Caru Tahu Yuk, Perkembangan Filologi di Nusantara!

Halo halo, balik lagi bersama aku Putri!


Kali ini teman nulisnya adalah tentang buku. Aku bingung banget mau bikin konten apa aslinya, terutama buat di blog. Sebenarnya bisa sih aku bikin konten review, cuman aku bingung aja gitu kalau disuruh menilai suatu buku, hehehe.


Kalau untuk di platform video, aku udah bikin konten study with me. Nah bagi kalian yang butuh teman belajar, yuk tonton videonya di sini, terus mulai kerjain tugas-tugasmu yang udah mepet deadline itu!


Oke, setelah lama aku berpikir, akhirnya aku putusin buat tulis aja apa yang aku pelajarin pas bikin video study with me kemarin. Nggak semuanya tentu saja. Tapi aku mau ambil satu topik dari mata kuliah filologi, yaitu tentang sejarah filologi terutama di Indonesia.


Pertama-tama, apa sih filologi itu?

Teman-teman pernah lihat nggak sih tulisan-tulisan di kertas yang udah menguning dan kelihatan rapuh, terus aksaranya tuh nggak familiar buat kalian?


Nah, itu namanya naskah kuno. Tugas filologi adalah mengkaji naskah-naskah tersebut. Tapi, untuk apa? Kan mereka adalah naskah "kuno", emang ada manfaatnya buat kehidupan kita sekarang dan untuk di masa depan?


Sini sini, aku bantu jelasin pakai bahasa bayi

Sejak zaman dahulu, per-sejarah-an itu asti ditulis sebagai bentuk 'pengarsipan' kan? Ditambah negara kita kaya sekali akan kebudayaan, adat istiadat, dan juga kebiasaan yang pastinya berbeda-beda setiap suku titik nah semua itu didokumentasikanlah oleh orang-orang terdahulu. Namun karena keterbatasan, media untuk tulis-menulisnya itu pasti sangat sederhana. Akhirnya sampai ke zaman kita, media tersebut sangat butuh untuk dirawat dan diperhatikan agar tidak musnah.


Lah, memangnya, isi dari naskah-naskah itu apa? Penting banget kah?

Penting, teman-teman. Ingat jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Asik.

Isi dari naskah itu tuh biasanya tata cara ritual, kegiatan sakral, tapi beberapa juga ada yang 'sepele' kayak surat utang piutang pada zaman kolonialisme.


Sayangnya, hari ini kita nggak bakal berargumen mengenai urgensi filologi. Itu kita bahas nanti-nanti deh kalau ada waktu lagi.


Sekarang kita mau bahas sejarahnya nih, berhubung temen-temen juga udah punya sedikit bayangan kan tentang apa yang diurusin sama filologi? Iya kan? (Maksa)


Pada tahun 1816, Hindia-Belanda menjadi negara kolonial, yang pada akhirnya memicu keinginan untuk meningkatkan pengetahuan demi administrasi dan pertumbuhan ekonomi. Muncullah dua golongan peneliti terhadap masyarakat terjajah, yaitu kelompok amatir dan profesional.

Kelompok amatir adalah pegawai pemerintah dan pekerja kolonial lain seperti ahli hukum, anggota militer, dan pegawai kesehatan.

Kelompok profesional disebut taalambtenaren (pegawai bahasa) dan taalafgevaardigde (utusan bahasa). Tugas mereka adalah mempelajari bahasa-bahasa daerah dari tangan pertama, terutama Jawa dan Melayu. Surakarta, Riau, dan Lingga adalah tempat-tempat yang dianggap tepat untuk belajar bahasa tersebut.


Tahun 1840 pemerintah Kolonial Belanda menugasi para ahli untuk melakukan riset. Untuk Bahasa Jawa ada C.F. Winter dan J.A. Wikens, sedangkan bahasa Melayu ada Klinkert dan Von de Wall. Narasumber bahasa Jawa nya adalah R.Ng. Ranggawarsita sedangkan bahasa Melayu Haji Ibrahim dan Raja Ali Haji. Mereka juga akhirnya menjadi jembatan antara Belanda dan pribumi.


Bahasa dan sastra Indonesia akhirnya mulai diajarkan di lembaga pendidikan belanda sejak abad 19, berawal dari Koninklijke Militaire Academie (KMA - Akademi Militer Kerajaan) di Breda.


Ada juga lembaga pelatihan untuk pegawai pemerintah bestuurambtenaren yaitu Koninklijke Academie (Akademi Kerajaan) di Delft. Pada 1842 lembaga ini pindah ke Leiden karena di sini didirikan Rijksinstelling voor Indische Taal-, Land-en Volkenkunde (Lembaga Nasional Bahasa, Geografi, dan Etnologi Hindia). Sejak saat itu Universitas Leiden menjadi pusat kajian Indonesia dan pusat pelatihan bagi para pegawai pemerintah kolonial.


Nah dulu, orang-orang Barat menganggap bangsa ini tuh tidak beradab, tidak bermoral, tidak berbudi pekerti, percaya pada takhayul, dan kanibal. Pemikiran yang seperti ini selanjutnya dikenal dengan nama Orientalisme.

Maka, mereka punya misi pemberadaban alias beschaving missie. (Maksudnya, mereka ingin memberadabkan orang-orang kita).


Didirikanlah NBG (Nederlandsch Bijbelgenootschap — Persekutuan Injil Belanda) dan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal Land-en Volkenkunde — Institut Kerajaan untuk Bahasa, Geografi, dan Etnologi) untuk membantu menyukseskan misi tersebut.


NBG itu—sesuai namanya, bertugas untuk menyebarkan syiar agama. Oleh karena syiar agama penting, maka untuk menyampaikan pesan dari Alkitab harus menggunakan penerjamah yang tidak amatir, dan mereka (penerjemah) diberi kedudukan sebagai taalafgevaardigde (utusan bahasa).


Sedangkan KITLV pada dasarnya didirikan sebagai think tank pemerintah kolonial Belanda untuk melestarikan kekuasaan di wilayah kolonialnya. Ibaratnya, kalau NBG itu fokus ke agama, sementara KITLV fokus ke ilmu pengetahuan nya.


Maka dapat disimpulkan bahwa kajian naskah lama Nusantara terutama Jawa ditujukan untuk mempelajari pemikiran orang Jawa dan sekaligus menyiapkan bahan ajar bagi para utusan bahasa dan para kandidat pegawai sipil kolonial yang akan ditugasi di Hindia Belanda.

Akhirnya, dapat diketahui bahwa filologi Indonesia tumbuh dan berkembang dalam tradisi orientalisme.


https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/4b/Kantoor_Nederlands_Bijbelgenootschap.JPG


Naaahh, gimana? Seru nggak bacanya? Atau malah pusing? Ngantuk? Bosen?


Hahahahaha. Aku maklum banget kalo temen-temen ngantuk dan bosen pas baca ini. Yah, mau gimana lagi, ini kan termausk ilmu sosial yang memang belajarnya bikin ngantuk.

Tapi jujur pas aku belajar ini tuh seru banget. Serasa diajak kembali ke masa lalu, terus ngebayangin betapa luar biasanya kesusastraan.


Aku harap tulisan ini dapat memberi sedikit pengetahuan baru buat kalian yaa. Keren banget loh tulisan ini nyampe 5000 kata, rekor tulisan terpanjang di blog ini—untuk sejauh ini.

Makasih buat kalian yang udah baca tulisan ini. Makasih juga buat siapapun yang setia baca dan nunggu blog aku(?) kalo ada(?) HAHAHAHA.

Sampai jumpa di halaman berikutnyaa!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Apa Cicilan? Kok Nggak Selesai-selesai?

Pernah nggak sih kamu baca komik atau karya sastra lainnya gitu deh, terus ngerasa, “Kok ceritanya gue banget, ya?” Nah, vibe itu yang langsung kerasa waktu baca Matahari Setengah Lingkar. Komik ini nggak cuma sekadar cerita, tapi juga punya alur yang familiar kita temui di kehidupan sehari-hari. Komik ini tuh punya akur campuran alias maju kena mundur kena (ea). Nggak ya. Maksudnya, komik ini selain menceritakan masa sekarang yang dialami Kayra, tokoh utama, juga menceritakan kisahnya di masa lalu yang melatarbelakangi perasaan Kayra saat ini. JADIIII, ceritanye. Kayra ni pas SMA dulu demen ama yang namanye Arka. Blio nih tipikal cowok di SMA yang gampang disukai banyak orang gitu ngerti kan. Ya gimana enggak, dia nih udah good looking, supel, ramah, suka bantu orang, supportif lagi. Awalnya Arka yang ngedeketin Kayra duluan dengan basa-basi ✨"Wah, gambar kamu bagus banget"✨ pas Kayra lagi duduk sendirian di bangku kelasnya sambil ngegambar.  Dari situ lah, Kayra naksir Arka...

Drawata: Tradisi Sastra Indonesia Unpam

Hai semuanyaaa! Ketemu lagi sama aku di halaman yang berbeda.   Tulisan kali ini agak spesial nih daripada biasanya, karena aku di sini mau review sesuatu yaitu teater. Tapi sebelum itu, ada hal yang perlu aku jelasin dulu nih ke kalian. Tentang Drawata. Drawata adalah singkatan dari Drama Warisan Tahunan. Acara ini merupakan salah satu pementasan yang diadakan oleh jurusan Sastra Indonesia Universitas Pamulang setiap tahunnya untuk memenuhi mata kuliah Kajian Seni Pertunjukan bagi mereka yang ada di semester 6. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Drawata juga diadakan di Amphiteater, Taman Kota 2 BSD, Tangerang Selatan. Terdiri dari 8 pertunjukan yang dibagi menjadi 4 hari, aku memilih untuk nonton di hari pertama, Rabu, 26 Juni 2024.   Pementasan yang dilakukan yaitu ada dua, pertama “Perempuan dan Anjing” karya Anton Chekhov yang diadaptasi dan diterjemahkan oleh kelas 06SIDE001 dan kedua “Orang Kasar” karya Anton Chekhov saduran dari W. S. Rendra. ...

JUDULNYA MUNGKIN RAMEN TIGA RIBU DASAWARSA?

  Hai. Aku kembali lagi. Kemarin, aku sama temenku pergi makan ke salah satu restoran Jepang yang baru buka di deket kampus. Murame namanya. Mereka ngejual ramen, teppanyaki, donburi, sushi, dan yakitori. Ngejual, katanya, berasa toko kelontong aja. Tapi maksudnya, itu tadi adalah menu-menu mereka. Tentu aja ditambah dengan dessert , makanan ringan, dan beverages lainnya. Dan di sini aku mau review satu-satu mulai dari tempatnya, rasanya, sampai ke pelayanannya.   Pertama, tempat. Lokasi Murame ini ada di Pamulang, deket banget sama kampus 2 Universitas Pamulang, pokoknya di sebelah Hokben. Setau aku dia emang baru buka cabang di sini bulan lalu. Cabang lainnya ada di Pasar Baru Tangerang dan Jatiasih. Kalau dari lokasi menurut aku strategis, ya. Mereka ada di tengah-tengah keramaian, di pinggir jalan, terus deket kampus swasta. Tenang, tempat parkir mereka luas. Kemarin pas aku dateng tuh kebetulan mepet jam makan malam, which is lagi rush hour , banyak banget moto...