Hai guys. Balik lagi sama aku, Putri.
Kali ini aku mau mengulas salah satu puisi legendaris nan ikonik karya Taufik Ismail, yaitu "Dengan Puisi Aku".
Bagi yang belum tau, nih aku spill dulu puisinya kayak gimana;
Dengan Puisi Aku
Karya Taufik Ismail
Dengan puisi, aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi, aku bercerita
Berbatas cakrawala
Dengan puisi, aku mengenang
Keabadian yang akan datang
Dengan puisi, aku menangis
Jarum waktu bila kejam meringgis
Dengan puisi, aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi, aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
Masya Allah, puisi ini sederhana tapi tuh dalem banget nggak sih guys? Pemilihan katanya nggak terlalu berbelit-belit dan nilai poetika nya nggak tinggi banget. Tapi efek nya bisa langsung sampe ke pembaca gitu loh.
Pertama denger puisi ini, aku langsung ngerasa, "Wah, segitu cintanya ya Bapak Taufik Ismail ke puisi". Sebagai seorang penyair, beliau betul-betul menjadikan puisi sebagai tempat untuk mencurahkan seluruh isi hatinya.
Puisi bukan sekadar karya seni, melainkan juga ekspresi hati seorang penulis. Saat merasa bahagia, sedih, atau penuh cinta, puisi menjadi cara yang paling efektif untuk menyampaikan perasaan seorang penyair. Taufik Ismail dalam puisinya juga menyinggung tentang kemanusiaan, menggambarkan peristiwa atau tragedi yang dibatasi oleh keadaan dan zaman yang semakin memburuk. Melalui "Dengan Puisi Aku," Taufik Ismail mengungkapkan permohonan agar kehidupan yang akan datang lebih baik. Puisi ini berusaha menegaskan martabat manusia yang tinggi,sehingga kita sebagai manusia harus saling menghargai satu sama lain.
Aku jadi mikir, apakah nanti saat aku dewasa, aku bisa mencintai pekerjaanku seperti Taufik Ismail mencintai puisi? Apakah aku bisa menjadikan pekerjaanku sebagai tempat aku bernyanyi, bercerita, berkeluh kesah?

Komentar
Posting Komentar