Langsung ke konten utama

Dosen Anti Mainstream-ku

Hai. Balik lagi sama aku.

Kalian inget nggak sih tulisan aku yang ngebahas tentang filologi? Yang ini loh.

 


Nah kemaren kan aku udah ngomongin tentang mata kuliahnya tuh. Sekarang aku mau ngomongin tentang dosennya. Iya kita sekarang mau ngomongin dosen.

Yang suka ngomongin dosen sama temennya, sini ngumpul. Wajib baca sampe abis pokoknya.

 

Jadi, dosenku yang mengampu mata kuliah Filologi ini adalah Ibu Iffah Fauziah Rahardy, S.S., M.A. Gila, berani banget ya aku mau ngomongin dosen sampe nyebut nama lengkap dan gelarnya?

Hehe, tenang. Sebenernya mah konten ini bukan ghibah, apalagi menghujat! Justru akum au kenalin kalian ke salah satu dosen di Universitas Pamulang yang keren abies ini.

 

Aku bertemu beliau di semester empat ini melalui mata kuliah Filologi. Tentang apa itu filologi dan gimana sejarahnya udah pernah aku tulis ya di konten sebelumnya.

 

Beliau ini asal Solo dan merupakan sarjana Universitas Gadjah Mada di jurusan Sastra Indonesia. Kemudian beliau melanjutkan studi S2 di bidang yang sama dan di kampus yang sama juga. Kerennya, beliau mengambil fokus di bidang filologi yang mana jarang banget diminati nih guys. Beliau bahkan cerita, waktu S1 itu cuman ada lima orang temennya yang ngambil Filologi dan cuman 2 atau 3 yang mempertahankan Filologi itu sampai ke S2. Wah, luar biasa ya.

 

Setelah lulus, beliau nggak langsung serta merta jadi dosen di Universitas Pamulang nih guys. Beliau lebih dulu mengajar di sekolah, bimbel, bahkan les privat. Baru kemudian beliau ngajar di sini.

Selama menjadi dosen, beliau ini sudah pernah mengampu beberapa mata kuliah di antaranya Sejarah Sastra Indonesia, Kajian Feminisme, Ilmu Sastra, Bahasa Sastra Agama, Sastra Lisan, dan Sastra Lama. (((keren banget plis)))

 


Bu Iffah cerita, kalau menggeluti bidang filologi itu tidak mudah. Pertama, mulai dari objek kajian Filologi itu sendiri, naskah kuno. Naskah kuno bukanlah sesuatu yang mudah untuk ditemui dan didapat. Butuh banyak sekali waktu, usaha, dan tenaga untuk mendapatkan suatu naskah kuno yang ingin kita kaji. Bu Iffah sendiri waktu meneliti untuk skripsi S1 nya dulu harus keliling Indonesia dulu buat cari naskahnya. Eh, ujung-ujungnya, ketemu naskah digital. Hahaha. Pengalaman yang luar biasa.

Kemudian sebagai seorang dosen, Bu Iffah juga menemui kesulitan nih temen-temen dalam mengajar Filologi. Beliau merasa membutuhkan effort lebih untuk menarik perhatian dan minat mahasiswanya agar antusias mempelajari Filologi. Seperti yang kita tahu ya, kalau Filologi itu kan membahas masa lalu, objek kajiannya klasik banget nih. Nggak trendi, nggak kekinian. Nah Bu Iffah sangat memperhatikan cara mengajar beliau agar tidak monoton, supaya mahasiswanya juga tidak bosan dan mengantuk nih saat mata kuliah Filologi dimulai.

 

Tapi sebagai salah satu mahasiswa yang diajar sama Bu Iffah di mata kuliah Filologi, aku bisa bilang kalau Bu Iffah ini berhasil loh mematahkan kekhawatiran beliau sendiri. Hampir satu semester penuh yang aku alami, aku nggak pernah sekalipun yang namanya ngantuk atau bosen di kelas beliau. Bu Iffah selalu berhasil membuat mahasiswanya antusias dan semangat karena cara pengajaran beliau itu interaktif banget. Beliau selalu memancing mahasiswanya untuk aktif berdiskusi dan melakukan mini riset.

Keren ya Bu Iffah >,<

 

Lucunya adalah, ketika aku tanya ke Bu Iffah mengenai momen paling berkesan selama dia ngajar di Universitas Pamulang adalah saat dia menemui satu kelas yang dia ampu, membeli buku Filologi rekomendasi beliau untuk rujukan selama satu semester.

Padahal kan hal ini sebenarnya biasa ya temen-temen. Tapi beliau menyebut bahwa selama beliau mengajar, belum pernah beliau temui satu kelas yang seluruh manusianya membeli buku rujukan yang beliau rekomendasikan. Hal ini sebenarnya menunjukkan betapa sedikitnya peminat mahasiswa terhadap kajian Filologi 😭😭😭

Jadi beliau merasa terharu dan sangat tersentuh akan semangat belajar mahasiswa di kelas tersebut. Beliau sangat mengapresiasi usaha kelas tersebut untuk setidaknya mau membaca bukunya.

 

Dan kalian tahu?

ITU ADALAH KELAS AKU!!!!! Ya ampun, aku juga jadinya ikut terharu.



Bu Iffah sangat merekomendasikan teman-teman untuk terjun ke dunia filologi loh. Kenapa? Bukan karena lagi promosi, tapi bidang filologi memang sangat menjanjikan. SDM Indonesia di bidang filologi ini masih sangat sedikit, temen-temen, sedangkan kebutuhan akan pengelolaan naskah kuno sangat banyak. Makanya Bu Iffah mendukung penuh bagi siapa saja yang ingin menggeluti bidang filologi.

Karena ini juga salah satu motivasi Bu Iffah saat dulu memutuskan mendalami filologi. Beliau bilang, dengan mengerjakan sesuatu yang langka, beliau juga akan menjadi sosok langka yang dicari-cari.

Motivasi lainnya adalah karena beliau mengidolakan dosen beliau yang mengajar mata kuliah Filologi ini. Beliau memandang bahwa dosen tersebut sangat professional di bidangnya dan wawasannya sangat luas. Jadi beliau makin tertarik lah sama dunia filologi.

Kalian juga punya nggak nih dosen favorit di kampus? Apakah kalian juga mendapat banyak inspirasi dan motivasi dari beliau? Coba tulis di kolom komentar.

 

Terakhir nih, beliau berpesan untuk teman-teman semuanya yang sedang berjuang untuk menggapai mimpinya nih, terutama temen-temen mahasiswa ya, untuk terus semangat. Beliau meminta kita untuk tidak menyerah, selalu belajar, dan tidak terkurung terus menerus di dalam zona nyaman diri kita sendiri.

Untuk membantu menggapai mimpi teman-teman semua, UNPAM hadir loh menemani kalian. Dengan biaya yang sangat murah namun fasilitas yang diberikan sangat lengkap, UNPAM menjadi pilihan yang tepat untuk menjadi wadah sekaligus teman berjuang teman-teman semua.

Kalau kalian penasaran sama keseruan obrolan aku dengan Bu Iffah, kalian bisa nonton videonya di YouTube aku, di sini!

 


Sampai jumpa di halaman berikutnyaaa!

Makasih dan dadaaahhh~!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Apa Cicilan? Kok Nggak Selesai-selesai?

Pernah nggak sih kamu baca komik atau karya sastra lainnya gitu deh, terus ngerasa, “Kok ceritanya gue banget, ya?” Nah, vibe itu yang langsung kerasa waktu baca Matahari Setengah Lingkar. Komik ini nggak cuma sekadar cerita, tapi juga punya alur yang familiar kita temui di kehidupan sehari-hari. Komik ini tuh punya akur campuran alias maju kena mundur kena (ea). Nggak ya. Maksudnya, komik ini selain menceritakan masa sekarang yang dialami Kayra, tokoh utama, juga menceritakan kisahnya di masa lalu yang melatarbelakangi perasaan Kayra saat ini. JADIIII, ceritanye. Kayra ni pas SMA dulu demen ama yang namanye Arka. Blio nih tipikal cowok di SMA yang gampang disukai banyak orang gitu ngerti kan. Ya gimana enggak, dia nih udah good looking, supel, ramah, suka bantu orang, supportif lagi. Awalnya Arka yang ngedeketin Kayra duluan dengan basa-basi ✨"Wah, gambar kamu bagus banget"✨ pas Kayra lagi duduk sendirian di bangku kelasnya sambil ngegambar.  Dari situ lah, Kayra naksir Arka...

Drawata: Tradisi Sastra Indonesia Unpam

Hai semuanyaaa! Ketemu lagi sama aku di halaman yang berbeda.   Tulisan kali ini agak spesial nih daripada biasanya, karena aku di sini mau review sesuatu yaitu teater. Tapi sebelum itu, ada hal yang perlu aku jelasin dulu nih ke kalian. Tentang Drawata. Drawata adalah singkatan dari Drama Warisan Tahunan. Acara ini merupakan salah satu pementasan yang diadakan oleh jurusan Sastra Indonesia Universitas Pamulang setiap tahunnya untuk memenuhi mata kuliah Kajian Seni Pertunjukan bagi mereka yang ada di semester 6. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Drawata juga diadakan di Amphiteater, Taman Kota 2 BSD, Tangerang Selatan. Terdiri dari 8 pertunjukan yang dibagi menjadi 4 hari, aku memilih untuk nonton di hari pertama, Rabu, 26 Juni 2024.   Pementasan yang dilakukan yaitu ada dua, pertama “Perempuan dan Anjing” karya Anton Chekhov yang diadaptasi dan diterjemahkan oleh kelas 06SIDE001 dan kedua “Orang Kasar” karya Anton Chekhov saduran dari W. S. Rendra. ...

JUDULNYA MUNGKIN RAMEN TIGA RIBU DASAWARSA?

  Hai. Aku kembali lagi. Kemarin, aku sama temenku pergi makan ke salah satu restoran Jepang yang baru buka di deket kampus. Murame namanya. Mereka ngejual ramen, teppanyaki, donburi, sushi, dan yakitori. Ngejual, katanya, berasa toko kelontong aja. Tapi maksudnya, itu tadi adalah menu-menu mereka. Tentu aja ditambah dengan dessert , makanan ringan, dan beverages lainnya. Dan di sini aku mau review satu-satu mulai dari tempatnya, rasanya, sampai ke pelayanannya.   Pertama, tempat. Lokasi Murame ini ada di Pamulang, deket banget sama kampus 2 Universitas Pamulang, pokoknya di sebelah Hokben. Setau aku dia emang baru buka cabang di sini bulan lalu. Cabang lainnya ada di Pasar Baru Tangerang dan Jatiasih. Kalau dari lokasi menurut aku strategis, ya. Mereka ada di tengah-tengah keramaian, di pinggir jalan, terus deket kampus swasta. Tenang, tempat parkir mereka luas. Kemarin pas aku dateng tuh kebetulan mepet jam makan malam, which is lagi rush hour , banyak banget moto...